Wartanews9.my.id || SURABAYA – Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, puluhan orang duduk bersila dalam keheningan di kawasan Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Rabu malam (3/6/2026). Tak ada suara gaduh, tak ada keramaian. Yang terdengar hanya napas, doa, dan upaya manusia mencari ketenangan di tengah padatnya kehidupan modern.
Paguyuban Semedi Mukti Wibawa kembali menggelar kegiatan rutin mingguan bertajuk Semedi Suci, sebuah ruang spiritual terbuka yang mengajak masyarakat mengenal kembali tradisi olah batin warisan leluhur Nusantara.
Menariknya, kegiatan kali ini diwarnai bertambahnya peserta baru dari berbagai latar belakang usia dan profesi. Mereka datang dengan alasan yang beragam, mulai dari mencari ketenangan, mengurangi tekanan hidup, hingga ingin memahami makna semedi yang selama ini hanya dikenal sebatas istilah.
Ketua Paguyuban Semedi Mukti Wibawa, KNA Ragil Hariani, S.Pd., menjelaskan bahwa semedi bukan sekadar praktik duduk diam, melainkan proses mengenali diri sendiri lebih dalam.
“Semedi bukan hanya sarana menenangkan pikiran, tetapi jalan membangun karakter yang lebih bijaksana, meningkatkan kesadaran diri, dan memperkuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan pembekalan materi dasar semedi, praktik meditasi hening, hingga sesi berbagi pengalaman antar peserta. Dalam suasana sakral kawasan bersejarah Arca Joko Dolog, peserta diajak memahami filosofi utama paguyuban yakni Heneng, Hening, dan Henung — diam dalam sikap, jernih dalam pikiran, dan mendalam dalam rasa.
Bagi sebagian orang, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas mingguan. Semedi menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia, merawat kesehatan batin, sekaligus menjaga tradisi spiritual Nusantara agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Paguyuban Semedi Mukti Wibawa membuka kesempatan bagi masyarakat umum yang ingin belajar dan mengenal praktik semedi lebih dekat melalui kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap Rabu malam.
Di tengah dunia yang serba cepat, mungkin sesekali manusia memang perlu belajar untuk diam—agar bisa kembali mendengar dirinya sendiri.
“Heningkan pikiran, jernihkan hati, dan temukan kedamaian dalam diri.” (Rijal)
dibaca
